Saturday, February 7, 2009

by mr_fozz

Apa Penyebab Kanker?

Sewaktu Dave duduk di depan komputer mengerjakan bab ini, tigapuluh buku yang ditulis oleh berbagai dokter dan peneliti tergeletak berserakan di atas meja belajar saya. Di bawahnya, terkumpul dalam map-map dokumen yang mengisi sebuah kotak kardus besar, ada artikel-artikel dan kliping-kliping dari para pakar lainnya. Jika anda bertanya buat apa menyusun suatu daftar berisikan hal-hal yang berhubungan dengan penyebab kanker, anda akan mendapati hal seperti ini:

Terkandung pada ...

  • Bahan-bahan kimia dari saluran gas buang kendaraan bermotor.

  • Bahan-bahan kimia dari asap rokok orang lain.

  • Bahan-bahan kimia dari polusi udara di perindustrian.

  • Bahan-bahan kimia yang ditransfer ke embrio dari diet orang tua.

  • Radiasi sinar-X.

  • Radiasi akibat sinar matahari secara berlebihan.

  • Kebocoran radiasi dari pembangkit tenaga nuklir.

  • Emisi alami gas radon dari tanah.

  • Radiasi elektromagnetik dari kawat-kawat bertegangan tinggi.

  • Bakteri parasit, menyerupai virus, yang dikenal sebagai Progenitor Cryptocides.
  • Mengkonsumsi ...

  • Banyak lemak dan protein dari daging dan hasil-hasil susu.

  • Pestisida yang membuat jenuh rantai makanan kita.

  • Pengawet-pengawet yang dipakai untuk memperpanjang usia makanan.

  • Obat-obatan.

  • Kafein dalam jumlah besar.

  • Bahan-bahan beracun di dalam air minum.

  • Hasil-hasil tembakau.

  • Alkohol yang berlebihan.

  • Hormon estrogen.

  • Sejumlah besar makanan-makanan 'jadi' atau makanan olahan.
  • Gaya hidup yang banyak ...

  • Stres kronis.

  • Konflik yang tak terselesaikan.
  • Meskipun tidak melelahkan, daftar ini membawa sebuah pesan yang jelas yang tidak boleh kita lewatkan. Kebenarannya diketahui, sebagian besar kanker adalah hasil -- sampingan dari gaya hidup era modern kita; akibat dari pilihan-pilihan yang kita buat, secara individu ataupun bersama-sama, yang membawa akibat signifikan pada kesehatan. Dr. Ernest H. Rosenbaum, M.D., kepala bagian onkologi (penelitian dan pengobatan tumor) di Rumah Sakit dan Pusat Medis Perancis di San Francisco, menulis, "Tampak berlimpahan yang kita terima -- kehidupan 'baik' kita -- merupakan kontributor utama terhadap tingginya angka kematian akibat kanker, seperti juga dengan penyakit jantung, stroke, emfisema, dan kegemukan."

    Bukalah sebuah buku atau bacalah teks apapun mengenai kanker, maka anda tidak akan mendapati kesimpulan lainnya. Misteri terbesar penyakit manusia modern, pembunuh nomor dua yang sedang bergerak cepat menuju nomor satu, merupakan sebagian besar mimpi buruh yang kita bawa. Kita, berpengaruh, meracuni diri kita sendiri sampai mati.

    Sebenarnya, beberapa dari kita yang saat ini menderita penyakit kanker, ada risiko-risiko kanker dalam kehidupan yang sedikit atau tidak kita kendalikan. Mungkin, seperti saya, anda berasal dari keluarga dengan riwayat predisposisi genetik yang bergerak ke arah penyakit ini. Meskipun demikian, nasib anda tidaklah demikian. Menghindari faktor-faktor risiko lainnya merupakan tindakan yang bijaksana. Seperti yang diteliti para ilmuwan dan peneliti dalam Prevention Magazine Health Book, "80-90% dari semua kanker diakibatkan oleh hal-hal yang kita lakukan terhadap diri kita sendiri."

    Patrick Quilin M.D., setuju, menunjuk pada diet sebagai penyebab utama:

    Perkiraan baru mengatakan bahwa angka 90 persen dari semua kanker disebabkan oleh lingkungan dan dapat dicegah. Faktor-faktor lingkungan meliputi makanan, polutan, sinar matahari, tembakau, dan lain-lain. Dari faktor-faktor lingkungan ini, yang terpenting mungkin adalah nutrisi (diet). Sebuah perkiraan konservatif menyatakan bahwa 30-60 persen dari semua kanker payudara dan kolon lebih 500 persen daripada bagian dunia lainnya, dan sebagian besar kenyataan yang meragukan ini disebabkan oleh nutrisi yang buruk. Kanker bukanlah, seperti yang beberapa orang pikir, "kilatan nasib, yang menyerang secara acak tanpa obat atau tanpa sebab." Ada hubungan sebab-dan-akibat antara lingkungan yang kita ciptakan -- gaya hidup dan diet yang kita pilih -- dan masalah kesehatan yang kita alami sebagai suatu negara. Apabila tiba saatnya untuk mengidentifikasi penyebab utama kanker, kita menemukan si musuh itu dan musuh itu adalah kita!

    Saya tidak mengatakan semua ini adalah upaya untuk membuat anda merasa bersalah atau tertekan, bahwa sepertinya anda telah gagal dalam hidup ini. Anda harus ingat bahwa saya berada di perahu yang sama dengan anda, "saudara sepupu kanker" yang menghadapi konsekuensi-konsekuensi kesehatan dari pilihan yang saya lakukan sendiri. Datang dari keluarga dengan riwayat kanker payudara, saya waspada terhadap risiko tinggi. Memandang hal itu, saya menyusui bayi, menghindari kopi dan alkohol, dan mengerjakan semua yang saya ketahui untuk dilakukan pada saat itu. Apa yang tidak saya ketahui, bagaimana pun juga, adalah hubungan antara kanker dan diet khas Amerika. Sayang sekali kanker tidak menunggu korbannya untuk mendapat edukasi. Dalam kebodohan, saya telah membuka pintu baginya untuk berkembang dalam tubuh.

    Berkubang dalam kesalahan tidak memberi kita kebaikan apa-apa, demikian juga dengan mempertahankan kebodohan yang naif bahwa kita tidak memainkan peran dalam membawa kanker itu ke dalam diri kita. Saya ingat ketika diyakinkan oleh dokter-dokter bahwa saya tidaklain merupakan refleksi dari sesuatu yang telah saya lakukan. Menurut mereka, degenerasi tubuh saya menjadi penyakit tidak lebih dari kemunculan sesaat tanpa ritme atau alasan -- "nasib," sebut mereka. Namun, dalam upaya mereka untuk membuat saya merasa lebih baik dengan mencari cara untuk menghindarkan saya dari tanggung jawab itu mereka melakukan kepada saya perbuatan yang sangat merugikan. Sebab ketika saya percaya bahwa timbulnya kanker adalah sesuatu yang tidak dapat saya kontrol atau pertanggungjawabkan, saya juga yakin bahwa tidak ada yang dapat saya lakukan untuk menolong tubuh agar sembuh. Tidak ada yang saya lakukan selain dari mengarahkan diri untuk pembedahan, radiasi, dan kemoterapi, -- "tiga besar" dari terapi medis modern melawan penyakit kanker.

    Andaikan saya dibawa ke dalam filosofi kanker "bukan-kesalahan," saya sudah merangkak lagi ke atas ranjang dan menunggu kematian datang, setelah akhirnya diberitahu bahwa "tiga besar" tidak lagi dapat menolong saya.

    No comments:

    Post a Comment