Showing posts with label demam Panas. Show all posts
Showing posts with label demam Panas. Show all posts

Wednesday, February 18, 2009

Demam Pun Bermanfaat..?

Jangan langsung panik begitu si kecil demam! Tak semua demam berbahaya bagi anak. Bahkan, demam justru bisa bermanfaat bagi tubuhnya.

Demam kok bermanfaat?! Begitu mungkin pikir para ibu yang setiap hari selalu berurusan dengan anak. Bagaimana bisa menganggap bermanfat bila panas tinggi anak saja sudah cukup membuat kuatir. Ya memang boleh saja kuatir, tapi sebaiknya juga Anda perlu tahu demam seperti apa yang perlu dikuatirkan. Tapi, "..demam pada dasarnya merupakan reaksi alamiah tubuh terhadap adanya infeksi.

Jadi, saat si kecil mengalami infeksi, demam tak perlu ditakuti karena justru itu tanda bahwa mekanisme pertahanan tubuhnya bekerja dengan baik," jelas dr.Budi Yudono, SpA(K) dari . Sepanjang suhu tubuhnya tidak melonjak tajam dan muncul gejala-gejala lainnya yang membahayakan seperti kejang, misalnya, orangtua tak perlu kuatir. Apa dan
bagaimana tentang demam? Berikut ulasan tuntas tentang demam untuk Anda.

Kuman
Demam yang terjadi pada anak-anak umumnya disebabkan oleh infeksi kuman, baik virus maupun bakteri. Karena infeksi tersebut, komponen-komponen sistem kekebalan tubuh seperti sel darah putih (leukosit) dan limfosit bekerja keras untuk melawan kuman. Nah, sel-sel tersebut bisa bekerja dengan lebih baik jika suhu tubuh dalam keadaan meningkat. Karena itulah, muncul gejala demam tadi.Dengan adanya demam, jumlah substansi antivirus di dalam tubuh pun ikut meningkat.

Demam yang terjadi pada anak-anak biasanya tak berbahaya dan tak menyebabkan kerusakan otak atau kerusakan fisik. Pada saat anak diimunisasi misalnya, biasanya akan muncul gejala demam ringan sebagai reaksi atas suntikan yang diberikan. Demam juga bukan indikasi adanya penyakit serius kecuali bila disertai dengan perubahan penampilan, perubahan tingkah laku, atau gejala lainnya seperti sulit bernapas atau kehilangan kesadaran.

Sementara ada anggapan bahwa demam tinggi adalah penyebab kejang demam. Padahal hal itu tidak sepenuhnya benar. Menurut Dr. Robert Mendelsohn dalam bukunya, "How To Raise A Healthy Child in Spite of Your Doctor" demam tinggi bukanlah penyebab utama kejang demam. Kejang tersebut baru terjadi saat suhu badan meningkat amat cepat, dan umumnya ini jarang terjadi. Hanya sekitar 4 persen anak dengan demam tinggi yang demamnya berkaitan dengan kejang. Tapi, tentu saja lagi-lagi orangtua perlu mengetahui demam mana yang perlu diwaspadai dan mana yang tidak.

Hindari Obat Berlebihan
Orangtua biasanya langsung segera memberikan obat penurun panas begitu anak mereka demam. Cara ini tak selamanya diperlukan sepanjang suhu tubuh anak tak mencapai 38,5 derajat Celsius dan anak masih terlihat ceria. Sebab, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, demam memang diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh saat terjadi infeksi. Sebaliknya, pemberian obat penurun panas terlalu sering seperti obat parasetamol, asetaminofen, aspirin, dan ibuprofen justru bisa berdampak negatif.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Torres dari Biomedical Utah State University, misalnya, memberikan teori baru tentang kemungkinan penyebab semakin tingginya kasus autisme saat ini. Torres menduga peningkatan itu berkaitan dengan pemberian obat penurun panas pada ibu hamil dan anak-anak. Selain itu, tidak ditemukan pula bukti bahwa obat penurun panas berhubungan dengan peningkatan nafsu makan dan menjadi lebih aktif. Jadi, intinya orangtua sebaiknya mengenali kapan harus memberikan obat penurun panas dan kapan obat tersebut tidak diperlukan.

Demam Yang Perlu Diwaspadai
Lalu, demam seperti apa yang perlu diwaspadai? Bila suhu tubuh terus meningkat dengan cepat dan muncul gejala-gejala lain seperti kehilangan kesadaran, sulit bernapas, muntah segeralah membawa si kecil ke dokter. Apalagi bila demam terjadi pada anak yang baru lahir. Demam yang terjadi pada bayi di pekan pertama kehidupannya harus mendapatkan perhatian serius. Hal ini karena umumnya telah terjadi infeksi pada saat proses persalinan ataupun penyebab serius lainnya. Berikut adalah gejala-gejala penyerta demam yang harus
diwaspadai menurut dr. Budi Yudono:
  • Buang air kecil tak sebanyak biasanya.
  • Warna mata yang kekuningan.
  • Batuk selama lebih dari sepekan.
  • Si kecil tampak merasakan nyeri di bagian telinga atau hidungnya.
  • Tak mau makan ataupun minum, dan terlihat lemas.
  • Batuk disertai muntah.
  • Sulit bernapas hingga mulut dan bibirnya terlihat kebiruan.
  • Bila gejala-gejala penyerta yang muncul seperti di atas, tentu demam tak bukan
  • lagi sesuatu yang bermanfaat buat si kecil. Anda perlu segera berkunjung ke dokter. N PG
==========================================================================
4 Langkah Tangani Anak Demam

Basuhlah tubuhnya dengan air hangat. Atau, bisa juga membiarkannya berendam di dalam bathtub berisi air hangat. Pastikan si kecil mendapatkan cukup cairan agar dia tidak mengalami dehidrasi, mengingat suhu tubuh yang meningkat bisa membuat keluarnya banyak cairan dari tubuh. Sup ayam yang hangat bisa Anda coba karena memang terbukti
secara ilmiah mampu meringankan gejala demam. Bila si kecil masih minum ASI, Anda bisa menyusuinya.

Pilihkan pakaian berbahan tipis untuk dikenakan si kecil agar dia merasa nyaman. Hindari pakaian berlapis-lapis yang justru akan semakin meningkatkan suhu tubuhnya. Pantau terus suhu tubuh si kecil dan kenali gejala-gejala penyerta yang perlu diwaspadai. Bila suhu tubuh terus meningkat dengan cepat dan muncul gejala-gejala lainnya yang mencemaskan Anda, segera bawa si kecil ke dokter.
Read More....

Demam pada Anak

Jangan pernah remehkan demam. Berbagai penyakit, baik yang ringan maupun yang berbahaya, ditandai dengan gejala naiknya suhu tubuh di atas normal. Kenali gejala lain yang menyertainya, agar tidak terlambat ditangani.

Demam adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal. Pada anak-anak, suhu tubuh normal berkisar antara 36-37,5 derajat Celcius. Banyak orang tua yang belum mengerti, demam bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala atau tanda.

"Demam bisa merupakan satu reaksi dari adanya infeksi, tanda bahwa di dalam tubuh kita lagi ada infeksi," ujar dr. Rismala Dewi Sp.A dari Divisi Pediatri Gawat Darurat, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Infeksi pada tubuh bisa disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit. Semua organ di tubuh bisa terkena infeksi. Misalnya, menyerang saluran pernapasan dan menyebabkan batuk pilek, radang tenggorokan atau amandel. Infeksi bisa juga menyerang telinga, saluran kencing, saluran pencernaan, dan lain-lain. Pendeknya, apa saja bisa diserang oleh virus dan bakteri.

"Jadi, demam itu sebenarnya bagus, sebagai pertanda adanya infeksi, dan tubuh sedang memerangi virus atau bakteri yang menyebabkan penyakit," ucap dokter yang akrab disapa Dewi ini.

Kapan Ke Dokter?

Biasanya, demam diikuti banyak gejala lain yang menyertainya. Menurut Dewi, pada hari-hari pertama, hampir semua penyakit belum kelihatan arahnya kemana. Oleh karenanya, orangtua hanya perlu mengawasi kondisi fisik anak dan gejala-gejala lain yang menyertai demam.

"Jika anak demam tapi tenang-tenang saja, masih bisa jalan, makan dan minum, bahkan bermain, maka orangtua tak perlu khawatir. Bahkan kalau perlu tidak usah menurunkan demamnya. Cukup diberi air minum yang banyak. Obat penurun panas baru perlu diberikan jika anak merasa gelisah dan tidak nyaman dengan kondisi panasnya," terang Dewi.

Orangtua perlu khawatir jika anak yang demam tampak sakit, misalnya cenderung lemas, muntah-muntah, dehidrasi, tidak mau makan, dan sangat rewel. Orangtua sebaiknya lebih waspada lagi jika anak mengalami gejala-gejala tertentu yang mencurigakan dan mengeluhkan sakit pada bagian tertentu tubuhnya.

"Misalnya anak mengeluh sakit di bagian perut, telinga, sakit saat buang air kecil, atau gejala lain seperti sesak nafas, ada bintik merah di permukaan kulit, dan sebagainya. Jika gejala ini muncul, anak harus dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tapi pada 24 jam pertama, gejala ini biasanya belum kelihatan."

Selain dilihat dari gejala lain yang menyertai demam, kapan tepatnya membawa si kecil ke dokter juga dilihat dari umurnya. Bayi di bawah 6 bulan, menurut Dewi, sebaiknya langsung dibawa ke dokter jika mengalami demam. Di usia ini, bayi biasanya masih memiliki daya tahan tubuh yang tinggi. "Biasanya, anak di bawah 6 bulan, lebih serius penyakitnya," ungkap Dewi. Jadi, jika di usia ini anak demam, maka kemungkinan ada penyakit yang lebih serius.

Kejang Demam

Yang kerap terjadi mengiringi demam adalah kejang. Kejang akibat demam, pada tiap anak berbeda. Ada yang ambang batas panasnya tinggi baru bisa terjadi kejang, ada juga yang rendah. Selain itu, kejang demam lebih sering terjadi pada usia antara 6 bulan - 4 tahun.

Riwayat keluarga, bisa juga menjadi patokan. "Misalnya ada yang panasnya 38 derajat Celcius sudah kejang, ada yang sampai 40-41 derajat Celcius enggak kejang juga. Harus dilihat juga apakah dalam keluarga ada riwayat kejang demam. Jika ada, kemungkinan untuk mengalami kejang demam lebih besar," terang Dewi.

Jika kejang demam terjadi, orang tua bisa sebaiknya memberikan pertolongan pertama dengan memberikan obat Diazepam Rektal, yang dimasukkan melalui dubur. Setelah itu, anak bisa dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut. "Makanya penting bagi orangtua untuk mengetahui apakah anaknya memiliki riwayat kejang atau tidak, agar selalu menyiapkan obatnya di rumah."

Walau sudah terbebas dari kejang demam, suhu tubuh anak harus tetap diturunkan. Caranya, dengan memberikan pakaian yang longgar dan nyaman, obat penurun panas yang mengandung parasetamol atau ibuprofen, dan kompres air hangat.

Anak sangat rentan dengan suhu lingkungan. Saat demam, jangan membungkus anak dengan jaket dan selimut yang tebal, karena panas tubuh malah tidak akan keluar. Jika memungkinkan, sebaiknya anak yang demam berada dalam suhu ruangan yang sejuk. "Kecuali jika anak menggigil, bisa kita kasih selimut, tapi jangan terlalu tebal. Jika suhunya sudah stabil, buka lagi selimutnya."

Kompres sebaiknya dilakukan dengan air hangat, karena berhubungan dengan penguapan. Dulu orang tua sering melakukan kompres dengan air dingin, bahkan alkohol. Panas memang turun dengan cepat. Namun input baliknya, otak akan menganggap suhu di luar tubuh dingin, sehingga kemudian malah memerintahkan tubuh memproduksi panas lebih banyak. Sebaliknya, kompres air hangat membantu penguapan dan keluarnya panas dari dalam tubuh.

Beberapa penyakit berbahaya, bahkan mematikan, memiliki gejala demam, beserta gejala lain. Diantaranya demam berdarah, penyakit kawasaki, flu burung, dan lain-lain. "Penyakit-penyakit berbahaya itu pada awalnya juga tidak akan kelihatan gejalanya, terutama pada hari pertama demam. Setelah 24 jam, jika memang muncul gejala yang mencurigakan, seperti muntah-muntah, sesak napas, bintik merah, dan lain-lain, segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut,
Read More....