Showing posts with label Kusta (Lepra). Show all posts
Showing posts with label Kusta (Lepra). Show all posts

Wednesday, February 18, 2009

Cuplikan Tanya Jawab Rubrik Seputar Kusta Dan Penularannya

Pertanyaan:

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada harian Waspada dan Dinas Kesehatan Kota Medan yang telah menyediakan rubrik konsultasi kesehatan untuk masyarakat.
Saya seorang pria berusia 45 tahun dan telah berkeluarga. Saya mempunyai seorang istri serta dua anak yang masing-masing berusia 17 dan 12 tahun. Secara kebetulan, saya memiliki tetangga seorang penderita kusta yang telah memiliki istri dan seorang anak. Namun istri dan anaknya tersebut sama sekali tidak menderita kusta.
Semula saya tidak begitu khawatir jika anak saya bermain ke rumah tetangga tersebut. Belakangan, muncul rasa cemas setiap kali anak saya terserang demam.

Yang ingin saya tanyakan:
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit kusta dan apa penyebabnya?
2. Bagaimana gejala penyakit kusta?
3. Bagaimana cara penularan penyakit kusta?
4. Berapa lama butuh pengobatan bagi penderita kusta tersebut?
5. Bagaimana cara mengetahui seseorang penderita kusta tersebut sudah sembuh?

Atas jawaban yang diberikan tim konsultasi kesehatan, saya ucapkan terima kasih.

YD - Deli Serdang

Jawaban :

Yang terhormat sdr.YD, terima kasih atas pertanyaannya.

1. Penyakit kusta atau disebut juga lepra (leprosy), juga disebut sebagai morbus hansen adalah suatu penyakit infeksi menular kronik yang digolongkan pada penyakit granulomatous yang disebabkan oleh kuman mycobacterium leprae.

2. Gejala dan tanda awalnya ditemukan pada kulit berupa ruam hipopigmentasi seperti panu dengan berkurangnya rasa rangsangan nyeri pada ruam tersebut (anestetik). Ruam ini dapat ditemukan dimana saja di tubuh, namun yang sering pada wajah, daun telinga, badan dan lengan. Kemudian ditemukan gejala gangguan pada saraf perifer berupa penebalan serabut saraf dan neuropati (gangguan fungsi saraf). Pada keadaan lanjut dapat ditemukan dua bentuk utama penyakit kusta yaitu bentuk tuberkuloid dan bentuk lepromatous atau bentuk antara keduanya, yang dapat ditentukan dari pemeriksaan keadaan ruamnya. Masa inkubasi bentuk tuberkuloid 2 – 5 tahun, sedangkan bentuk lepromatous 8 – 11 tahun. Bila terjadi kerusakan saraf yang luas, akan menimbulkan kelemahan otot yang disupali oleh saraf tersebut dan juga menyebabkan hilangnya rangsangan pada daerah yang dipersarafinya, untuk selanjutnya bila tidak diobati akan terjadi kerusakan jaringan berupa pembengkakan, luka/ulkus dan juga infeksi sekunder.

3. Cara penularannya dari manusia ke manusia melalui droplet/udara. Faktor umur, jenis kelamin, kontak serumah yang lama dan imunitas/kekebalan tubuh mempengaruhi penyebaran penyakit ini.

4. Pengobatan penyakit ini membutuhkan waktu yang lama, 6 – 12 bulan. Disamping itu juga diperlukan kombinasi 2 sampai 3 jenis obat dan keteraturan makan obat-obat tersebut. Kuman penyebabnya satu golongan dengan kuman penyebab tuberkulosis (mycobacterium tuberculosa) yang juga membutuhkan pengobatan jangka panjang. Obat yang digunakan saat ini adalah rifampisin, dapsone dan clofazimine.

5. Untuk mengetahui seorang penderita kusta sudah sembuh adalah dengan melakukan pemeriksaan secara umum (oleh dokter) dan pemeriksaan laboratorum darah tertentu, serta yang paling penting pemeriksaan kuman penyebabnya. Kalau penyakit sudah berjalan lama dan sudah terjadi kerusakan pada jaringan saraf dan otot, kesembuhan akan meninggalkan cacat permanen, dan acapkali cacat permanen ini membutuhkan tindakan operasi untuk memperbaiki fungsi, seperti pada tangan dan kaki. Untuk itu, menentukan diagnosa secara dini dan pengobatan yang teratur merupakan hal yang paling penting dalam mengatasi penyakit ini.

Dr. Umar Zein, DTM&H, SpPD-KPTI; Dr. Rumondang Pulungan; Dr. Batara MHS, SpB; Dr. Mangatas Silaen, SpOG; Dr. Nuryunita, SpP; Drg Yulinar Bardan; Drg. Ahmad Sofyan; Dr. Yuniar Bardan; Zuraida, S.Psi; Nila Marlina, S.Psi, Dr. Indra Gunawan.

Read More....

Pengaruh Penyebaran Kusta

Buruknya kondisi kesehatan lingkungan banyak ditemui pada warga miskin. Lokasi ini disinyalir menjadi sarang yang nyaman untuk berkembangnya bakteri kusta.Rasikin tak pernah mengerti mengapa kini tubuhnya dipenuhi bercak berwarna merah. Kemudian pada bercak tersebut juga terasa penebalan. Hingga akhirnya bercak merah tersebut memenuhi seluruh tubuhnya, hingga cuping telinga dan mukanya. Akhirnya, Rasikin mengetahui kalau ia mengidap kusta.

Indonesia dikenal sebagai satu dari tiga yang paling banyak memiliki penderita kusta. Di bawah India yang menjadi penyumbang penderita terbesar dengan 260.063 kasus, kemudian Brasil dengan 49.384 kasus dan Indonesia dengan 16.549 kasus.

Kusta atau lepra sendiri sebenarnya berasal dari bakteri bernama Mycobacterium leprae. Jenis bakteri ini juga dikenal dengan nama Hansen’s bacillus, lantaran ditemukan oleh seorang ahli fisika Norwegia bernama Gerhard Armauer Hansen, pada tahun 1873 lalu.
Secara etiologi, penyakit ini kemudian dikenal menyerang bagian syaraf tepi, dengan kebanyakan tanda inkubasi berada di kulit. Beberapa asumsi kemudian menyebutkan bahwa penyakit ini dapat ditularkan melalui udara. Biasanya terjadi pada udara yang mengandung bakteri leprae, yang dihirup manusia.

Selain itu, penyebaran juga diperkirakan terjadi akibat kontak langsung dengan luka penderita kusta. Namun ini biasanya hanya terjadi pada kusta tipe basah saja.
Penyakit kusta memang dikenal dengan dua macam tipe, yaitu bertipe basah dan kering. Pada tipe basah biasanya cenderung mudah menularkan pada orang lain. Jenis ini biasanya diidentifikasi dengan adanya tanda bercak keputihan atau kemerahan yang tersebar merata di seluruh badan. Sementara tipe kering cenderung tak menular, dengan tanda bercak putih dan mati rasa pada daerah bercak.

Selain proses penularan melalui udara, baru-baru ini diketahui juga bahwa proses penularan penyakit kusta dapat terjadi melalui air. Seperti terjadi pada beberapa kasus di bagian Jawa Barat dan Bekasi beberapa waktu lalu. ”Kemungkinan hal tersebut dikarenakan kurangnya persediaan air bersih,” papar Budi Haryanto, SKM, MSc, Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan FKM UI, Rabu (24/1) pekan ini.

Pencegahan
Oleh karena itu, menurut Budi, memang seharusnya kini masyarakat lebih memerhatikan kondisi kesehatan lingkungan di sekitar hidup mereka. Meskipun memang diakui proses terjadinya penyebaran kusta lebih berpotensi disebabkan kontak dengan penderita kusta, namun bukan hal yang merugikan bila tindakan pencegahan juga dilakukan dengan membersihkan kondisi lingkungan di sekitar mereka.
Caranya dengan tidak memakai air kotor sebagai alat untuk mandi, karena dikhawatirkan membawa bakteri kusta, serta menghindari memakai pakaian-pakaian bekas yang tidak jelas asal-muasalnya.
Sementara itu, menurut dokter spesialis kulit dan kelamin RSUPN Cipto Mangunkusumo, dr Sri Linuwih S Menaldi, kusta sebenarnya merupakan tipe penyakit menular yang daya tularnya sangat rendah. ”Seseorang yang tertular lepra biasanya baru mengetahui telah terinfeksi bakteri lepra setelah 40 hari, dan pada umumnya setelah 3-5 tahun. Terkadang bahkan mencapai waktu bertahun-tahun hanya untuk penampakan penyakitnya,” katanya

Sumber Jakarta Media
Read More....

Penyakit Kusta (Lepra)

Seorang Pria berumur 24 tahun Yang mengidap Penyakit Kusta

Kusta atau Lepra atau disebut juga Penyakit Morbus Hansen, Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.[1] Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar.[2] Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata. Tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat, kusta tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu mudah, seperti pada penyakit tzaraath, yang digambarkan pada alkitab dan sering disamakan dengan kusta.

Sejarah

Konon, kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh peradaban Tiongkok kuna, Mesir kuna, dan India.[4] Pada 1995, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat dua hingga tiga juta jiwa yang cacat permanen karena kusta. [5] Walaupun pengisolasian atau pemisahan penderita dengan masyarakat dirasakan kurang perlu dan tidak etis, beberapa kelompok penderita masih dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, seperti India dan Vietnam.

Pengobatan yang efektif terhadap penyakit kusta ditemukan pada akir 1940-an dengan diperkenalkannya dapson dan derivatnya. Bagaimanapun juga, bakteri penyebab lepra secara bertahap menjadi kebal terhadap dapson dan menjadi kian menyebar. Hal ini terjadi hingga ditemukannya pengobatan multiobat pada awal 1980-an dan penyakit ini pun mampu ditangani kembali.

Ciri-ciri

Lesi kulit pada paha.

Manifestasi klinis dari kusta sangat beragam, namun terutama mengenai kulit, saraf, dan membran mukosa.[6] Pasien dengan penyakit ini dapat dikelompokkan lagi menjadi 'kusta tuberkuloid (Inggris: paucibacillary), kusta lepromatosa (penyakit Hansen multibasiler), atau kusta multibasiler (borderline leprosy).

Kusta multibasiler, dengan tingkat keparahan yang sedang, adalah tipe yang sering ditemukan. Terdapat lesi kulit yang menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya lebih banyak dan tak beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai, dan gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta tuberkuloid.

Kusta tuberkuloid ditandai dengan satu atau lebih hipopigmentasi makula kulit dan bagian yang tidak berasa (anestetik).

Kusta lepormatosa dihubungkan dengan lesi, nodul, plak kulit simetris, dermis kulit yang menipis, dan perkembangan pada mukosa hidung yang menyebabkan penyumbatan hidung (kongesti nasal) dan epistaksis (hidung berdarah) namun pendeteksian terhadap kerusakan saraf sering kali terlambat.

Tidak sejalan dengan mitos atau kepercayaan yang ada, penyakit ini tidak menyebabkan pembusukan bagian tubuh. Menurut penelitian yang lama oleh Paul Brand, disebutkan bahwa ketidakberdayaan merasakan rangsang pada anggota gerak sering menyebabkan luka atau lesi. Kini, kusta juga dapat menyebabkan masalah pada penderita AIDS.[7]

Penyebab

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mycobacterium leprae
Mycobacterium leprae.

Mycobacterium leprae adalah penyebab dari kusta.[2] Sebuah bakteri yang tahan asam M. leprae juha merupakan bakteri aerobik, gram positif, berbentuk batang, dan dikelilimgi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium.[8] M. leprae belum dapat dikultur pada laboratorium.[9]

Patofisiologi

Mekanisme penularan yang tepat belum diketahui. Beberapa hipotesis telah dikemukakan seperti adanya kontak dekat dan penularan dari udara. [10] Selain manusia, hewan yang dapat tekena kusta adalah armadilo, simpanse, dan monyet pemakan kepiting.[11] Terdapat bukti bahwa tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman M. leprae menderita kusta, dan diduga faktor genetika juga ikut berperan, setelah melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di keluarga tertentu. Belum diketahui pula mengapa dapat terjadi tipe kusta yang berbeda pada setiap individu. [12] Faktor ketidakcukupan gizi juga diduga merupakan faktor penyebab.

Penyakit ini sering dipercaya bahwa penularannya disebabkan oleh kontak antara orang yang terinfeksi dan orang yang sehat.[13] Dalam penelitian terhadap insidensi, tingkat infeksi untuk kontak lepra lepromatosa beragam dari 6,2 per 1000 per tahun di Cebu, Philipina[14] hingga 55,8 per 1000 per tahun di India Selatan.[15]

Dua pintu keluar dari M. leprae dari tubuh manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung. Telah dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adnaya sejumlah organisme di dermis kulit. Bagaimanapun masih belum dapat dibuktikan bahwa organisme tersebut dapat berpindah ke permukaan kulit. Walaupun terdapat laporan bahwa ditemukanya bakteri tahan asam di epitel deskuamosa di kulit, Weddel et al melaporkan bahwa mereka tidak menemukan bakteri tahan asam di epidermis. [16] Dalam penelitian terbaru, Job et al menemukan adanya sejumlah M. leprae yang besar di lapisan keratin superfisial kulit di penderita kusta lepromatosa. Hal ini membentuk sebuah pendugaan bahwa organisme tersebut dapat keluar melalui kelenjar keringat. [17]

Pentingnya mukosa hidung telah dikemukakan oleh Schäffer pada 1898.[18] Jumlah dari bakteri dari lesi mukosa hidung di kusta lepromatosa, menurut Shepard, antara 10.000 hingga 10.000.000 bakteri.[19] Pedley melaporkan bahwa sebagian besar pasien lepromatosa memperlihatkan adanya bakteri di sekret hidung mereka.[20] Davey dan Rees mengindikasi bahwa sekret hidung dari pasien lepromatosa dapat memproduksi 10.000.000 organisme per hari.[21]

Pintu masuk dari M. leprae ke tubuh manusia masih menjadi tanda tanya. Saat ini diperkirakan bahwa kulit dan saluran pernapasan atas menjadi gerbang dari masuknya bakteri. Rees dan McDougall telah sukses mencoba penularan kusta melalui aerosol di mencit yang ditekan sistem imunnya. [22] Laporan yang berhasil juga dikemukakan dengan pencobaan pada mencit dengan pemaparan bakteri di lubang pernapasan. [23] Banyak ilmuwan yang mempercayai bahwa saluran pernapasan adalah rute yang paling dimungkinkan menjadi gerbang masuknya bakteri, walaupun demikian pendapat mengenai kulit belum dapat disingkirkan.

Masa inkubasi pasti dari kusta belum dapat dikemukakan. Beberapa peneliti berusaha mengukur masa inkubasinya. Masa inkubasi minimum dilaporkan adalah beberapa minggu, berdasarkan adanya kasus kusta pada bayi muda.[24] Masa inkubasi maksimum dilaporkan selama 30 tahun. Hal ini dilaporan berdasarkan pengamatan pada veteran perang yang pernah terekspos di daerah endemik dan kemudian berpindah ke daerah non-endemik. Secara umum, telah disetujui, bahwa masa inkubasi rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun.

Pengobatan

Paket terapi multiobat.

Sampai pengembangan dapson, rifampin, dan klofazimin pada 1940an, tidak ada pengobatan yang efektif untuk kusta. Namun, dapson hanyalah obat bakterisidal (pembasmi bakteri) yang lemih terhadap M. leprae. Penggunaan tunggal dapson menyebabkan populasi bakteri menjadi kebal. {ada 1960an, dapson tidak digunakan lagi.

Pencarian terhadap obat anti kusta yang lebih baik dari dapson, akhirnya menemukan klofazimin dan rifampisin pada 1960an dan 1970an. [25] Kemudian, Shantaram Yawalkar dan rekannya merumuskan terapi kombinasi dengan rifampisin dan dapson, untuk mengakali kekebalan bakteri.[26] Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat di atas pertama kali direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada 1981. Cara ini menjadi standar pengobatan multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan sebagai obat tunggal untuk mencegah kekebalan atau resistensi bakteri.

Terapi di atas lumayan mahal, maka dari itu cukup sulit untuk masuk ke negara yang endemik. Pada 1985, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di 122 negara. Pada Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44 di Jenewa, 1991, menelurkan sebuah resolusi untuk menghapus kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000, dan berusaha untuk ditekan menjadi 1 kasus per 100.000. WHO diberikan mandat untuk mengembangkan strategi penghapusan kusta.

Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi Kusta pada 1993 dan merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar.[27] Yang pertama adalah pengobatan selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.

Obat terapi multiobat kusta.

Sejak 1995, WHO memberikan paket obat terapoi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Strategi ini akan bejalan hingga akhir 2010.

Pengobatan multiobat masih efektif dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan pertama.[4] Cara ini aman dan mudah. jangka waktu pemakaian telah tercantum pada kemasan obat.[4]

Epidemiologi

Distribusi penyakit kusta dunia pada 2003.

Di seluruh dunia, dua hingga tiga juta orang diperkirakan menderita kusta.[5] India adalah negara dengan jumlah penderita terbesar, diikuti oleh Brasil dan Myanmar.

Pada 1999, insidensi penyakit kusta du dunia diperkirakan 640.000, pada 2000, 738.284 kasus ditemukan. Pada 1999, 108 kasus terjadi di Amerika Serikat. Pada 2000, WHO membuat daftar 91 negara yang endemik kusta. 70% kasus dunia terdapat di India, Myanmar, dan Nepal. Pada 2002, 763.917 kasus ditemukan di seluruh dunia, dan menurut WHO pada tahun itu, 90% kasus kusta dunia terdapat di Brasil, Madagaskar, Mozambik, Tanzania dan Nepal.

Kelompok berisiko

Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.



Read More....