Showing posts with label Masalah Pada Mata. Show all posts
Showing posts with label Masalah Pada Mata. Show all posts

Tuesday, March 3, 2009

Tips Kesehatan Lewat Obat Tradisional: Mengatasi Mata merah Iritasi dengan Daun Sirih

PERINGATAN!!! Tulisan ini merupakan tulisan awal saya mengenai obat-obatan tradisional maupun hal-hal yang menyangkut tips kesehatan atau mengatasi penyakit lainnya. Kemanjuran maupun keefektifan dari penggunaan obat atau tips ini hanyalah bersumber dari pengalaman saya saja serta pengetahuan yang diturunkan secara mulut-ke mulut. Disini saya ingin menekankan, juga untuk tulisan-tulisan saya selanjutnya yang berhubungan dengan obat-obatan tradisional maupun tips kesehatan lainnya, bahwa tips kesehatan lewat Obat Tradisional maupun yang lainnya ini dan nanti, tidak saya dasarkan melalui penelitian ilmiah khas laboratorium. Jadi ingin saya tekankan juga, efek samping yang mungkin terjadi karena penggunaan obat-obatan maupun yang lainnya ini tidak teruji secara ilmiah. Saya menyatakan tidak bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi jika nanti ternyata apa yang saya nyatakan dan tuliskan mengenai obat-obatan dan tips yang lainnya ini berefek negatif bagi anda. Mohon dibaca baik baik Peringatan ini.

Kebetulan di rumah bapak ibu saya terdapat tanaman obat-obatan tradisional. Kalau beberapa orang mungkin menyebutnya sebagai TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Ada benarnya sih pemberian nama TOGA ini. Kadang kala orang juga sering menamai pengetahuan yang bersumber dari keluarga yang sifatnya turun-temurun ini sebagai suatu “kearifan lokal”. Nah, sebagai seorang manusia yang sering terkena penyakit (Normal bukan?), kadang kala atau malah sering kali obat-obatan yang saya pergunakan untuk mengatasi sakit saya berasal dari tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah.

Suatu saat saya mengalami yang namanya “kelilipan” atau mata terkena sesuatu benda sedemikian sehingga saya merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Kemudian secara reflek saya “mengucek (bahasa jawa)” atau menggosok mata saya tersebut dengan tangan. Sebuah perbuatan yang sangat saya sesali karena kemudian mata saya menjadi merah. Dan apa lacur, tidak hanya merah saja mata saya tetapi mata saya bahkan bengkak dan bola mata saya seperti mau keluar dari rongga mata. Saya ketakutan tentunya menyaksikan mata saya dicermin. Itu tidak terhitung air mata yang telah saya keluarkan karena kejadian itu.

Saya mengadu ke ibu bapak. Sebuah perbuatan yang wajar bukan. Jika anda sakit sebaiknya anda juga melakukan hal seperti saya. Meminta tolong seseorang. Bukan begitu? Ibu saya sehabis saya perlihatkan kondisi mata saya, dengan sedikit kepanikan menyarankan saya untuk memetik beberapa buah daun Sirih yang berada di beranda samping rumah. Kemudian menyuruh saya untuk mencucinya dan kemudian merendamnya dalam air panas. Semua saya lakukan sendiri.

Air yang telah direndami Daun Sirih beberapa lembar tersebut kemudian saya pergunakan untuk membasuh mata saya. Caranya waktu itu mengikuti saran ibu adalah dengan mencelupkan mata saya ke mangkok atau wadah air bersirih tersebut. Tentunya setelah air bersirih tersebut tidak lagi panas betul. Hangat-hangat kuku lah. Atau dingin sekalian juga gak papa.

Anda tahu apa yang terjadi? Beberapa menit kemudian mata merah saya mulai berkurang bengkaknya. Beberapa kali saya disuruh oleh ibu untuk mengulangi apa yang saya lakukan sebelumnya yaitu mencelupkan mata merah iritasi tersebut ke rendaman air daun sirih. Dan dalam satu hari setelah saya melakukan pengobatan tradisional itu, secara mengagumkan mata saya sudah tidak bengkak dan merah lagi.

Ringkasan mengatasi mata merah iritasi:

Petik beberapa lembar daun sirih
Rendam daun sirih dalam air panas
Tunggu sampai rendaman agak dingin atau dingin
Celupkan mata anda ke dalam rendaman
Ulangi sampai beberapa kali

Semoga saja pengalaman saya ini bermanfaat.

Salam Sehat

Read More....

Mata Merah, Mata Terangsang

Soal rangsang-merangsang biasanya menarik dibicarakan. Tergantung konteksnya. Bagaimana kalau yang terangsang mata? Biasanya sih ia langsung memerah, bahasa kerennya iritasi gitu loh. Namun, apakah semua mata merah pertanda iritasi? ===== Siapa pun orangnya, pasti pernah mengalami mata merah. Misalnya, lantaran kena asap kendaraan bermotor, terkena gas irisan bawang, alergi, sampai kelilipan debu. Menurut dr. Raman R. Saman, dokter mata di Laser Sight Centres Indonesia, Jakarta, iritasi mata terjadi bila indera penglihatan mengalami rangsangan, baik dari dalam maupun luar tubuh.

Bentuk rangsangannya beragam, mulai dari benda padat, gas, sampai zat kimia. “Warna merah muncul di mata sebagai reaksi atas datangnya rangsangan, berupa pembuluh darah yang melebar. Jadi, iritasi itu sesungguhnya usaha tubuh secara alamiah untuk menolak zat yang mengganggu mata, jelas dr. Raman. Makanya, mata berubah jadi merah. “Tapi Dok, setiap bangun tidur, mata saya juga sering merah. Apa itu juga gejala iritasi mata? tanya Tinneke, yang mengaku punya penyakit susah tidur. Sabar-sabar. Semua bakal dapat tanda-tangan, eh jawaban.

Beri kesempatan bernapas Menurut dr. Raman R. Saman, meski rata-rata disebabkan rangsangan, penyebab dan kadar keparahan mata merah tak bisa dipukul rata. Pun tidak semuanya bermuara pada iritasi. Contohnya, seperti dialami Tinneke, ketika bangun tidur di pagi hari, kadang mata tiba-tiba saja terlihat merah. Mata tidak terasa sakit dan makin lama makin luntur warna merahnya. Adakah yang mesti dikhawatirkan Tinneke? Jawabannya jelas tidak. Penjelasannya kira-kira begini. Ketika bertugas, mata membutuhkan pasokan oksigen yang cukup, baik dari luar maupun dari dalam tubuh.

Ketika tidur, mata tidak mendapatkan cukup oksigen dari luar, meskipun tetap mendapatkan pasokan oksigen dari dalam badan. Dengan kata lain, jumlah oksigen yang masuk lebih sedikit. Agar tidak kekurangan oksigen, mata melakukan antisipasi dengan melebarkan pembuluh darah. Dengan melebarkan pembuluh darah, pasokan oksigen bisa tercukupi, kira-kira sama seperti ketika mata sedang melek. Makanya, saat bangun tidur, mata terlihat merah. Jika selain merah, mata juga terasa capek dan pedih, cobalah ingat-ingat dengan cermat. Apakah pada malam harinya terlalu lelah bekerja? Kalau jawabannya ya, tidak ada yang perlu dicemaskan.

Dengan cukup istirahat, mata akan kembali normal. Sebaliknya, kalau merahnya mata diikuti rasa sakit, pedih yang berlangsung sampai tiga hari berturut-turut, misalnya, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Sebelum itu, untuk meredakan sakit mata dapat diberi obat tetes atau salep mata yang mengandung antibiotik.

Gejala kekurangan oksigen yang sangat potensial berubah menjadi iritasi salah satunya adalah lantaran pemakaian lensa kontak yang terus-menerus. Secara fisik, bola mata kita sebenarnya berlubang atau berpori-pori, sama seperti kulit, jelas dr. Saman. Pemakaian lensa kontak terus-menerus, tanpa pernah dilepas dapat membuat mata tak bisa bernapas dengan bebas, karena tertutup rapat oleh lensa kontak. Jadi, anjuran untuk sesekali melepas lensa kontak, selain bermanfaat untuk perawatan dan menjaga kebersihan lensa kontak, juga agar dapat sejenak membiarkan bola mata mengambil napas dengan bebas. Pemakai pun dapat sekalian meneliti lensa kontaknya, apakah masih utuh dan tidak kering. Kalau ada yang gempil sedikit saja, bisa melukai mata. Pakai kaca mata Ada lagi mata merah yang hilang-timbul dalam jangka waktu lama. Gejala seperti itu biasanya disebabkan oleh alergi yang datang dan pergi, serta berlangsung dalam waktu lama. Kadang disertai rasa gatal yang mereda jika mata tidak “berkomunikasi dengan debu, angin, atau serbuk pemicu alergi (alergen) lainnya.

Untuk menyembuhkan mata merah kambuhan ini, penderita harus dapat melacak faktor pencetus alergi pada bola matanya. Mata yang mengalami alergi umumnya memiliki tanda-tanda gatal, berwarna merah, serta kadang keluar bintil-bintil kecil (jika kena alergi debu atau serbuk tanaman). Dibutuhkan tetes mata yang bersifat disensitifikasi atau pencegah cetusan, atau obat tetes antihistamin untuk menghilangkan gejala-gejalanya. Pengidap TBC, campak, difteria, cacingan dapat juga terserang gejala mata merah. Untuk yang satu ini, tentu tidak akan sembuh begitu saja hanya dengan antibiotik. Penderita harus menyembuhkan dulu penyakit induk yang menjadi akar penyebab merahnya mata. Misalnya, kalau mata merah ternyata bagian dari campak atau cacingan, ya campak dan cacingannya dulu yang harus diberantas tuntas.

Risiko terkena iritasi mata lebih mungkin menyerang mereka yang bekerja di lapangan terbuka. Di sana banyak sekali musuh mata, seperti debu, asap kendaraan bermotor, cairan bahan kimia atau gas, yang siap "merangsang" jika pemiliknya lengah. Namun jangan khawatir, banyak cara untuk mengantisipasinya. Salah satunya, yang paling praktis, memakai kaca mata pelindung, terutama di tempat-tempat yang dicurigai banyak mengandung polusi. Bagaimana dengan mereka yang suka berenang? Bukankah sehabis berenang, mata juga sering berubah jadi merah? Versi Raman, gejala yang satu ini tak perlu dirisaukan. Mata akan pulih kembali dengan sendirinya.

Mata menjadi merah umumnya bukan akibat kemasukan bakteri, tetapi karena kaporit pada air kolam renang. Kaporit sendiri justru mengandung antiseptik yang dapat melindungi mata dari berbagai zat berbahaya. Budaya obat tetes Masih menurut dr. Raman, mata manusia sebenarnya sudah dilengkapi dengan sistem perlindungan yang sangat baik. Benteng perlindungan pada indera penglihatan ini dari sononya dibuat berlapis-lapis. Lapisan paling luar dikoordinasikan oleh bulu mata dan alis mata. Sedangkan pertahanan bagian dalam ada pada gerak refleks kedip serta air mata yang dilengkapi susunan kimia tertentu yang tiada tandingannya.

Dengan benteng sekuat itu, menurut Raman, iritasi pada mata sejatinya bisa hilang dengan sendirinya alias sembuh secara alamiah. Kecuali pada orang-orang tertentu yang sangat peka atau perasa, daya sembuhnya mungkin akan lebih lama, bahkan kadang perlu diobati atau dibawa ke dokter mata. Tentang penggunaan obat tetes mata, seperti disitir dr. Raman, sebenarnya boleh-boleh saja. Cuma, sebaiknya penggunaannya untuk waktu-waktu tertentu, tidak terus-menerus dan berlarut-larut. Obat tetes mata, misalnya diperlukan pada saat mata kering atau produksi air mata kurang karena faktor usia, penderita glaukoma (tekanan bola mata yang terlalu tinggi), atau saat terkena infeksi atau alergi. Sulitnya, mentang-mentang mudah didapat di warung-warung pinggir jalan, kadang obat tetes mata dianggap sebagai makanan sehari-hari.

Pergi ke mana-mana selalu membekali diri dengan obat tetes mata. Begitu mata merah, langsung ditetesi dua atau tiga tetes. Iritasi memang hilang tak berbekas, tapi bekas-bekas yang diakibatkan efek sampingannya bisa jauh lebih berbahaya. Itu sebabnya, untuk sebab-sebab serius, pemakaian obat tetes mata harus atas anjuran dokter, karena yang ada di pasar bebas mengandung zat penyempit atau pengerut pembuluh mata (vaso constriction). Kalau pembuluh darah mengerut, aliran darah bisa terhambat. Ini sangat berbahaya bagi penderita yang memiliki bakat glaukoma. Jika digunakan secara berlebihan, glaukoma yang semula bersembunyi dapat muncul tiba-tiba menimpa si pemilik mata.

Dr. Raman menganjurkan, sementara iritasi diobati, dicari juga apa penyebabnya. Kalau iritasinya karena asap rokok, sebaiknya berhenti merokok. Bisa juga karena tidak cocok pada produk kosmetik tertentu, misalnya bedak atau perona mata. Beberapa orang diketahui sensitif pada kandungan kimia yang terdapat pada produk kosmetik. Kalau iritasi terjadi akibat terkena cairan kimia, segera bilas dengan air bersih sebanyak-banyaknya.

Untuk membersihkan mata tidak perlu pakai boor water, dengan air bersih sudah cukup. Kemudian segera saja ke dokter. Jika ditunda-tunda, iritasi yang telanjur parah bisa menumbuhkan pterigium (daging tumbuh), yang lambat laun dapat menutupi pupil mata dan mengganggu penglihatan. Untuk mengikis dan menghilangkannya, perlu operasi kecil dan tentu saja, biaya tak sedikit. Kalau masih dapat dicegah, mengapa harus menunggu masuk ruang bedah?
Read More....

Monday, March 2, 2009

Lensa Kontak Rentan Iritasi Mata

MATA dianggap cerminan hati. Namun, kebanyakan orang dinilai sering lupa menjaga kesehatan mata. Ini dapat dilihat dari menjamurnya orang memakai kaca mata maupun lensa kontak. Masalahnya, apakah retina diabetika aman menggunakan lensa kontak ?
Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI, dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, 1,5 persen atau 3 juta penduduk Indonesia mengalami kebutaan. Sebab kebutaan ada karena katarak (70 persen), glaukoma (hampir 20 persen), dan penyakit retina (12-13 persen).

Penyakit atau gangguan pada mata dapat disebabkan karena faktor keturunan (degenerasi), yakni makin tinggi usia seseorang akan meningkatkan gangguan mata. Selian itu, pola makan yang kurang benar, lingkungan, dan kebiasaan pun dapat mengganggu kesehatan mata. “Bahkan, diabetes bisa mengakibatkan gangguan kesehatan yang sama (retino diabetika). Ini disebabkan komplikasi dengan penyakit kencing manis. Akibatnya bukan hanya dapat mengganggu kesehatan mata, bahkan berisiko kebutaan,” ujar dr. Ni Nyoman Seri Sukmawati, Sp.M di Denpasar belum lama ini.

Pada mata normal, sinar atau gambar yang ditangkap mata jatuh tepat di retina mata sehingga jarak penglihatan dapat terpantau jauh atau dekat. “Mata minus, sinar atau gambar yang terekam di mata jatuh di depan retina, sehingga pandangan melihat dekat wajah jelas tetapi latar belakangnya kabur. Sedangkan, pada mata plus, sinar atau gambar yang terekam di mata jatuh di belakang retina, sehingga pandangan dekat kabur,” jelasnya.


Rabun Jauh
Menurut tamatan spesialis mata FK Universitas Diponegoro Semarang ini, gangguan kesehatan pada mata yang umum terjadi adalah penurunan fungsi penglihatan, dan mata merah. “Penurunan fungsi penglihatan wajar terjadi pada usia 40 tahun ke-atas. Mereka biasanya menderita rabun dekat (presbyopia), yang merupakan bagian dari proses penuaan. Untuk itu perlu dibantu dengan kacamata baca,” jelas perempuan kelahiran Denpasar, 50 tahun silam ini.

Sementara gangguan rabun jauh (myopia) atau biasa sering disebut minus. Menurut dokter spesialis mata RS. Wangaya ini banyak disebabkan karena keturunan, umumnya sudah dialami sejak masih kecil. Jika myopia dibiarkan, minusnya akan bertambah. “Tak jarang kita melihat ada anak kecil yang memakai kaca mata sangat tebal. Penyakit mata rabun jauh tidak bisa berkurang, apalagi kembali seperti mata normal lagi, walaupun sudah memakai kacamata,” jelas Dokter Seri.

Dokter Seri menyebutkan mata merah ada yang disebabkan karena bibit penyakit, ketika terjadi wabah pada sebuah daerah dan menyerang pada beberapa orang. “Yang terkena kondisi tubuhnya memang rentan terhadap penyakit, bagi yang tahan mungkin tidak terkena,” ujarnya.

Sementara ada mata merah karena debu, yang lama-lama juga akan mereda. Sedangkan mata merah karena infeksi terasa gatal, rasa tidak enak seperti ada pasir, mengeluarkan air mata, pembengkakan kelopak mata, dan bangun tidur keluar kotoran mata. “Mata merah karena debu tidak seperti itu, hanya merah dan lama-lama mereda,” jelasnya.
Gangguan lain yang tergolong infeksi mata, yakni kelilikan atau bintitan. Ia mengatakan, bedanya dengan penyakit mata merah, bibit penyakitnya bersarang di kelopak mata. “Pada kelopak mata terdapat beberapa kelenjar, seperti kelenjar airmata, kelenjar minyak pembasah bulu mata. Jika kelenjar ini dimasuki bibit penyakit, maka akan terbentuk bisul. Bisul kelenjar ini yang menimbulkan kelilikan (hordeolum),” paparnya.
Biasanya dokter akan melakukan operasi kecil, dengan penyembuhan hanya sehari. Masyarakat umumnya menggunakan kesuna untuk pengobatan. Ia mengatakan jika bintit masih kecil dan belum bernanah mungkin saja bisa sembuh sendiri, tapi jika sudah membatu, harus segera diangkat dengan operasi.

Glaucoma merupakan penyakit mata berisiko kebutaan. Pada kondisi gangguan kesehatan mata ini, tekanan bola mata meninggi dengan gejala mata merah. “Dibutuhkan obat tetes yang digunakan khusus untuk menurunkan tekanan bola mata. Jika dibiarkan berisiko kebutaan,” katanya.

Selain itu ada juga penyakit katarak. Penyakit ini biasa menyerang umur 40 tahun ke-atas. Biasanya dilakukan operasi. Tapi sering terjadi setelah operasi katarak malah penderita menjadi tidak bisa melihat total. Menurut Dokter Seri hal itu disebabkan karena ada komplikasi, misalnya gangguan saraf belakang mata (glaucoma). “Jika operasi normal, dan tidak ada komplikasi pasti penglihatan menjadi lebih baik,” yakinnya.

Lensa Kontak
Ada anggapan orang berkacamata memberikan kesan tertentu seperti pintar, modis, atau cantik. Selain tajamnya penglihatan berfungsi dengan baik, kacamata juga bisa melindungi mata dari debu dan efek buruk dari sinar matahari. Meski begitu, menurut dokter Seri pengunaan kacamata banyak kendala, seperti sering kotor, tergores, berembun, lensanya pecah. Bila ukuran refraksi mata tinggi, kacamata menjadi tebal berpengaruh terhadap kesan wajah. Kacamata menjadi halangan berolahraga. Bagi pengguna kacamata, pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan dua tahun sekali. Alasannya, kacamata akan berubah jarak pandangnya.

Seiring dengan kemajuan teknologi, dan perhatian serta pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kesehatan mata, gangguan mata semakin dini sudah terdeteksi, disamping pesatnya pertumbuhan produk kesehatan mata. Kini banyak orang beralih ke lensa kontak. Kelebihannya, lebih nyaman, penglihatan lebih baik, aktifitas baik, ada pilihan warna-warni. Jenisnya bermacam-macam, sesuai dengan keinginan. Tapi kendalanya kata dokter Seri, tidak smeua orang cocok dengan lensa kontak. Bahkan tak jarang sering menimbulkan iritasi mata. “Perawatan harus ekstra hati-hati, karena lensa kontak strerilnya tidak baik. Bila cara perawatan dan pemakaian salah bisa terjadi infeksi dan penyakit serius pada mata,” paparnya.

Untuk perawatan lensa kontak itu tergantung dari jenis lensa kontak itu sendiri. Ada yang harus dicuci setiap hari atau seminggu sekali. “Pencucian dengan menggunakan tangan sangat berisiko pada kesterilannya. Kalau untuk menunjang kecantikan dipakai sekali waktu mungkin tidak masalah, tapi sebagai pengganti kacamata rentan iritasi mata,” tegasnya.

Konsumsi Nutrisi
Menjaga agar mata sehat bukanlah hal sulit. Dokter Seri menyarankan mengkonsumsi makanan yang mengandung nutrisi untuk pemeliharaan kesehatan mata. “Sayuran berwarna hijau mengandung lutein dan zeaxanthin sebagai protector lensa mata terhadap serangan radikal bebas. Vitamin A dan C terkandung pada wortel dan buah-buahan berwarna,” ujarnya.

Selain mengkonsumsi makanan yang mengandung nutrisi untuk mata, yang juga perlu dilakukan kata dokter Seri, gunakan lampu penerangan yang terang untuk membaca pada malam hari dan jangan membaca sambil tiduran. Menonton televisi jangan terlalu dekat. Jika akan bepergian pada siang hari gunakan topi dan kacamata hitam dan gunakan kaca mata khusus berenang. Bagi para pengguna komputer biasakan mengistirahatkan mata setiap dua jam sekali selama 10 - 20 menit. “Hal ini penting agar mata tidak terus-menerus terfokus pada layar komputer. Alihkanlah pandangan mata ke tempat lain yang lebih jauh. Relakskan mata, pejamkan sebentar, atau kedipkan,” jelasnya.

Hal itu katanya dapat menurunkan ketegangan dan menjaga mata tetap basah dan sejuk. Bila terlalu lama melihat dalam jarak dekat, alihkan pandangan anda ke arah yang jauh. Menurutnya mata sudah mempunyai proteksi sendiri yakni air mata yang mencegah masuknya bakteri ke dalam mata. “Jadi jika tidak kemasukan benda asing jangan terlalu sering mencuci mata sembarangan,” sarannya.
Read More....