Showing posts with label Usus Buntu. Show all posts
Showing posts with label Usus Buntu. Show all posts

Wednesday, February 18, 2009

Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)

Sebelum dibahas lebih jauh mengenai radang usus buntu yang dalam bahasa medisnya disebut Appendicitis, maka lebih dulu harus difahami apa yang dimaksud dengan usus buntu. Usus buntu, sesuai dengan namanya bahwa ini merupakan benar-benar saluran usus yang ujungnya buntu. Usus ini besarnya kira-kira sejari kelingking, terhubung pada usus besar yang letaknya berada di perut bagian kanan bawah.

Usus buntu dalam bahasa latin disebut sebagai Appendix vermiformis, Organ ini ditemukan pada manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Pada awalnya Organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi, tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) dimana memiliki/berisi kelenjar limfoid.

Seperti organ-organ tubuh yang lain, appendiks atau usus buntu ini dapat mengalami kerusakan ataupun ganguan serangan penyakit. Hal ini yang sering kali kita kenal dengan nama Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis).

  • Penyebab Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)

  • Penyakit radang usus buntu ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun faktor pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti. Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi) pada lapisan saluran (lumen) appendiks oleh timbunan tinja/feces yang keras (fekalit), hyperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur.

    Diantara beberapa faktor diatas, maka yang paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyabab adalah faktor penyumbatan oleh tinja/feces dan hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia Coli, inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu.

    Makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya sering kali tak tercerna dalam tinja dan menyelinap kesaluran appendiks sebagai benda asin, Begitu pula terjadinya pengerasan tinja/feces (konstipasi) dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk kesaluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan usus buntu tersebut.

    Seseorang yang mengalami penyakit cacing (cacingan), apabila cacing yang beternak didalam usus besar lalu tersasar memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan penyakit radang usus buntu.

  • Gambaran Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)

  • Peradangan atau pembengkakaan yang terjadi pada usus buntu menyebabkan aliran cairan limfe dan darah tidak sempurna pada usus buntu (appendiks) akibat adanya tekanan, akhirnya usus buntu mengalami kerusakan dan terjadi pembusukan (gangren) karena sudah tak mendapatkan makanan lagi.

    Pembusukan usus buntu ini menghasilkan cairan bernanah, apabila tidak segera ditangani maka akibatnya usus buntu akan pecah (perforasi/robek) dan nanah tersebut yang berisi bakteri menyebar ke rongga perut. Dampaknya adalah infeksi yang semakin meluas, yaitu infeksi dinding rongga perut (Peritonitis).

  • Tanda dan Gejala Penyakit Radang Usus Buntu

  • Gejala usus buntu bervariasi tergantung stadiumnya;
    1. Penyakit Radang Usus Buntu akut (mendadak).
      Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan tubuh akan panas tinggi, mual-muntah, nyeri perut kanan bawah, buat berjalan jadi sakit sehingga agak terbongkok, namun tidak semua orang akan menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang, atau mual-muntah saja.

    2. Penyakit Radang Usus Buntu kronik.
      Pada stadium ini gejala yang timbul sedikit mirip dengan sakit maag dimana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul. Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut yaitu nyeri pd titik Mc Burney (istilah kesehatannya).
    Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada arah posisi/letak usus buntu itu sendiri terhadap usus besar, Apabila ujung usus buntu menyentuh saluran kencing ureter, nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih. Bila posisi usus buntunya ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak spesifik begitu.

  • Pemeriksaan diagnosa Penyakit Radang Usus Buntu

  • Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh Tim Kesehatan untuk menentukan dan mendiagnosa adanya penyakit radang usus buntu (Appendicitis) oleh Pasiennya. Diantaranya adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiology ;
    1. Pemeriksaan fisik.
      Pada appendicitis akut, dengan pengamatan akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi). Pada perabaan (palpasi) didaerah perut kanan bawah, seringkali bila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendisitis akut.

      Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai di angkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah. Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga. Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu.

    2. Pemeriksaan Laboratorium.
      Pada pemeriksaan laboratorium darah, yang dapat ditemukan adalah kenaikan dari sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000 – 18.000/mm3. Jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).

    3. Pemeriksaan radiologi.
      foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit. Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis. Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis apendisitis (71 – 97 %), terutama untuk wanita hamil dan anak-anak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan pemeriksaan CT scan (93 – 98 %). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran apendiks.

  • Penanganan dan Perawatan Penyakit Radang Usus Buntu

  • Bila diagnosis sudah pasti, maka penatalaksanaan standar untuk penyakit radang usus buntu (appendicitis) adalah operasi. Pada kondisi dini apabila sudah dapat langsung terdiagnosa kemungkinan pemberian obat antibiotika dapat saja dilakukan, namun demikian tingkat kekambuhannya mencapai 35%.

    Pembedahan dapat dilakukan secara terbuka atau semi-tertutup (laparoskopi). Setelah dilakukan pembedahan, harus diberikan antibiotika selama 7 – 10 hari. Selanjutnya adalah perawatan luka operasi yang harus terhindar dari kemungkinan infeksi sekunder dari alat yang terkontaminasi dll.

    Created By Mr_fozz
    Read More....

    Pengalaman Sahabat Tentang Usus Buntu

    Usus Buntu

    Sekitar 2 minggu lalu ayah saya mengalami diare. Sempat meminum obat2 diare umum dan oralit (untuk mencegah dehidrasi karena diare). Namun sampai 5 hari berturut2 masih juga belum sembuh. Ditambah kemudian adanya pengerasan dibagaian kanan bawah perut.

    Setelah periksa ke dokter (18/12) dan akhirnya diUSG (19/12), diperkirakan positif peradangan usus buntu (APENDISITIS), karena ada cairan (abses/nanah) disekitar usus. Akhirnya Rabu (20/12) siang dioperasi. Hasil analisa dokter : usus buntunya sudah rapuh, namun usus mencoba melindungi membentuk lapisan. Syukur hasil PA lebih lanjut tidak menunjukan adanya sel2 ganas.

    Berikut adalah gejala radang usus buntu :
    * Biasanya rasa nyeri dimulai pada perut bagian tengah perut (seperti penyakit Maag), dan akan menjalar keperut bagian bawah kanan
    * Rasa sakit semangkin meningkat ,sehingga pada saat berjalanpun penderita akan merasakan sakit yang mengakibatkan badan akan mengambil sikap membungkuk pada saat berjalan.
    * Bila radang semangkin meluas dapat menimbulkan rasa mual , bahkan muntah , dan nafsu makan akan segera menurun.
    * Demam akan segera timbul apabila radang tidak segera mendapat pengobatan yang tepat.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
    * Infeksi usus buntu bukan karena makan biji2an. Tapi karena kuman, yang mengakibatkan infeksi.
    * Jika mengakat kaki kanan tidak sakit (salah satu cara mendeteksi), itu tidak berarti bukan usus buntu. Bisa saja akibat peradangan malah rasa sakitnya tidak terasa.
    * Dalam taraf ringan, bisa disembuhkan dengan antibiotik. Tapi jika berlarut-larut, harus dengan operasi.
    * Operasi usus buntu termasuk operasi kecil.

    Yang menarik :
    Usus buntu ini adalah organ tubuh yang sampai sekarang belum diketahui fungsinya …

    Di Kutip Dari Pengaalaman Sahabat..
    Read More....

    Usus Buntu Kapan Dioperasi?

    Apakah kasus usus buntu dapat ditanggulangi tanpa operasi? Kapan operasi diperlukan? Apa bahayanya bila tidak dioperasi? Begitu pertanyaan pembaca yang dijawab Dr. Handrawan Nadesul kali ini.


    "Dokter, tetangga saya meninggal gara-gara usus buntu. Baru-baru ini putri saya, 21 tahun, mengalami sakit perut yang luar biasa hebatnya, sehingga sampai berguling-guling di lantai. Karena katanya usus buntu gejalanya seperti itu, saya takut sekali putri saya juga terserang usus buntu. Saya pun membawanya ke rumah sakit. Setelah memeriksa pasien dan memperoleh hasil laboratorium darah, dokter memutuskan anak saya harus dioperasi malam itu juga.

    Namun, karena belum siap, baik finansial maupun mental, saya minta waktu. Dokter mengatakan, risiko ditanggung sendiri kalau terjadi apa-apa. Lalu saya mencari dokter lain. Dokter lain itu bilang, memang sebaiknya dioperasi, tetapi bisa diberi obat antibiotika kalau tidak mau dioperasi. Saya memilih obat saja dulu.

    Lima hari setelah minum obat, kondisi putri saya sudah membaik. Boleh dikatakan sudah sembuh total. Saya kembali kontrol ke dokter yang memberinya obat. Dokter melakukan pemeriksaan, dan juga laboratorium darah ulang. Katanya sudah sembuh. Pertanyaan saya:1. Melihat pengalaman putri saya, sesungguhnya apakah kasus usus buntu dapat ditanggulangi tanpa operasi? 2. Kapan sesungguhnya kasus usus buntu memerlukan operasi? 3. Apa bahayanya bila kasus usus buntu tidak dioperasi?"
    Ny. Sug. Sus., Jakarta

    Tidak Sederhana
    Ny. Sug. Sus. di Jakarta, Ya, saya ikut bergembira atas tertanggulanginya penyakit putri Anda. Namun, satu yang perlu dipastikan, yakni ihwal kasus putri Anda itu. Apakah putri Anda itu benar didiagnosis menderita usus buntu atau appendix acute.

    Untuk sampai pada diagnosis usus buntu tidaklah sederhana. Di Amerika Serikat saja ada banyak kasus salah diagnosis usus buntu. Sejatinya bukan usus buntu, tetapi cenderung didiagnosis sebagai usus buntu. Memang tidak selalu gampang mendiagnosis usus buntu, terlebih pada anak dan orang usia lanjut. Tidak selalu khas dan jelas tanda dan gejala penyakitnya. Teoretis disebut, serangan usus buntu diawali dengan demam, mual-muntah, nyeri perut kanan bawah, sembelit, atau mungkin diare ringan, dan biasanya tak bisa buang angin.

    Namun, tidak semua kasus usus buntu menampakkan diri khas seperti di buku. Beberapa pemeriksaan pendukung diperlukan apabila pemeriksaan fisik pasien masih meragukan. Ada beberapa pemeriksaan spesifik buat menyokong penegakan diagnosis, seperti nyeri tekan di titik Mc Burney perut kanan bawah, tetapi ini pun tak selalu ada.

    Ada juga pemeriksaan dengan sengaja mengangkat tungkai kanan pasien setinggi-tingginya atau menekuk sendi paha sedalam-dalamnya ke arah perut, pemeriksaan colok dubur, atau pada yang sudah menikah dilakukan colok vagina. Namun, semua itu belum tentu cukup untuk dapat mendiagnosis usus buntu secara tepat. Pemeriksaan darah laboratorium juga tidak khas. Sel darah putih (leukosit) kemungkinan meninggi. Namun, adakalanya tidak atau belum terjadi (pergeseran sel darah putih untuk sel-sel polymorphonuclear). Ini pun tidak selalu khas usus buntu.

    Sebaiknya Dioperasi
    Tentu ada cara lain dengan melakukan pencitraan, mulai dari foto dengan kontras, USG, untuk melihat seperti apa kondisi usus buntunya. Jika memang sudah terjadi proses peradangan, tentu usus buntunya sudah berubah dalam ukuran, selain kemungkinan adanya sumbatan pada lumennya.

    1. Aturannya, kalau memang jelas terjadi peradangan (infeksi) usus buntu, ya sebaiknya dioperasi untuk membuangnya. Umumnya, usus buntu yang sudah terinfeksi akan berakhir dengan membusuknya sel-sel dinding usus. Dinding usus buntu yang membusuk cenderung akan pecah (perforasi) sehingga isi usus akan tumpah memasuki rongga perut.

    Kondisi tumpahnya isi usus akan menimbulkan keadaan gawat darurat perut (acute abdomen), sehingga tindakan operasi perlu dilakukan (kegawat-daruratan medis). Jika tidak, nyawa bakal terancam akibat rongga perut tercemar infeksi perut yang menyeluruh (peritonitis). Peliknya, pasien usus buntu yang datang untuk diperiksa dokter tentu tidak selalu dalam kondisi yang sama stadium penyakitnya.

    Mungkin masih sangat awal, ketika usus buntunya baru saja meradang, membengkak, dan menjadi abses (bisul). Bisa juga ketika datang sudah lebih dari sekadar abses, melainkan usus buntunya sudah di ambang pecah. Dan hanya soal waktu saja jika tidak segera dioperasi.

    Kalau pada pencitraan usus buntu menunjukkan radang, kemungkinan pada saat itu penyakitnya memang masih sangat awal. Umumnya pada stadium ini, pemberian obat antibiotika masih bisa membatalkan berlanjutnya proses infeksi usus buntunya. Kemungkinan itu yang terjadi pada putri Anda.

    Bahwa dokter rumah sakit menganjurkan operasi, bisa jadi penilaiannya pada saat itu sudah berindikasi untuk operasi. Dokter yang paling tahu dari membaca hasil pencitraan usus buntu, sehingga berdasarkan hasil pemeriksaannya itu, ia memutuskan kalau kasus putri Anda itu berindikasi untuk dibedah.

    Bahwa kemudian ternyata dapat ditolong dengan obat antibiotika, itulah seninya ilmu kedokteran (the art of medicine). Seni bagaimana seorang dokter membaca dan menyikapi sebuah kasus. Tidak ada yang pasti untuk setiap kasus yang sama pada orang yang berbeda. Kompetensi, seni pendekatan dokter terhadap pasien, jam terbang dokter, menentukan apa yang akan dokter putuskan terhadap suatu kasus, yang belum tentu sama dengan keputusan sejawatnya yang lain.

    2. Kapan kasus usus buntu dioperasi, ya aturannya begitu diagnosis usus buntunya berhasil ditegakkan, yaitu pada saat ususnya sudah terinfeksi, membengkak, meradang, dan di ambang pecah. Operasi dilakukan sebelum bisul usus buntunya telanjur pecah. Bahwa dokter memutuskan untuk melakukan pembedahan usus buntu ternyata diagnosis yang meleset, bisa saja terjadi. Di AS sebagian diagnosis usus buntu, ternyata kasus yang salah diagnosis. Oleh karena perut pasien sudah kepalang dibuka, usus buntu yang sehat pun sekalian dibuang saja, toh memang tidak ada gunanya.

    Lebih sering meleset lagi mendiagnosis usus buntu pada kaum Hawa, karena tumpang tindih dengan indung telur. Nyeri perut usus buntu juga tersamar oleh radang kelenjar ludah perut pankreas, atau ada batu kandung empedu, infeksi ginjal, atau penyakit usus besar.

    Menanggung Risiko
    3. Kasus usus buntu yang beridikasi harus dioperasi, tetapi tidak dioperasi, pasien menanggung risiko pecahnya usus buntu yang sudah membusuk. Tumpahan isi usus ke rongga perut yang biasanya memerlukan pembedahan yang lebih luas dan berisiko mengancam nyawa, terlebih apabila sampai terlambat ditangani.

    Kecurigaan adanya komplikasi usus buntu muncul apabila nyeri perut, di mana pun lokasi nyerinya, mulai bertambah hebat, dan demam meninggi (lagi), lalu jika darah diperiksa, sel darah putihnya meningkat sekali (di atas 10 ribu). Kalau pasien memperhatikan, dinding perut mengeras seperti papan pada perabaan, nyeri perut menyebar hampir ke sekujur perut, dan muntah-muntah yang hebat.

    Kasus usus buntu yang sudah komplikasi terlihat dari cara pasien berjalan. Selain agak terbungkuk-bungkuk, saking menahan nyeri perut yang luar biasa, lengan kanan pasien tertekuk berada di perut atas, seakan tengah menggendong dinding perut.

    Sekarang dengan pencitraan usus yang lebih canggih, mestinya kecil kemungkinan kasus usus buntu sampai lolos atau salah diagnosis. Namun, mengingat semakin canggih alat yang digunakan semakin tinggi pula ongkos yang harus dibayar pasien, tidak selalu perlu dilakukan pemeriksaan dengan peralatan canggih kalau gejala dan tanda klinis serta laboratorium darah sudah sangat jelas.

    Dulu dilakukan pemeriksaan kontras barium lewat bawah untuk melihat bayangan, apakah lumen usus buntu sudah tersumbat ataukah tidak. Dapat pula dilakukan dengan cara minum segelas barium, dan ditunggu 24 jam untuk membaca bayangan usus buntu yang sama (appendectography).

    Cara terakhir ini yang masih dinilai lebih efisien. Selain lebih murah, tak perlu tindakan (invasif), dan tanpa persiapan khusus pula. Pasien cukup diberi minum barium kontras sehari sebelum hasilnya akan dibaca.

    Read More....

    RADANG USUS BUNTU APENDISITIS

    Hati-hati bila kamu merasakan perut yang sakit dan telah diberi obat

    maag tapi tidak juga sembuh-sembuh, apalagi rasa sakit terfokus atau

    berpusat diperut kanan bawah !

    Mungkin kamu terkena radang usus buntu atau yang dikenal juga de-

    ngan istilah APENDISITIS.

    Radang usus buntu dapat menyerang siapa sa-

    ja tidak padang bulu apakah dia orang kota atau

    yang tinggal di desa.

    Gejalanya biasanya seperti sakit maag sehingga

    penderita sering mengabaikannya.

    Gejala dirasakan cenderung mendadak dan bia-

    sanya akan terus meningkat.

    Gejalanya antara lain :

    Biasanya rasa nyeri dimulai pada perut bagian tengah perut (seperti -

    penyakit Maag), dan akan menjalar keperut bagian bawah kanan

    Rasa sakit semangkin meningkat ,sehingga pada saat berjalanpun pen

    derita akan merasakan sakit yang mengakibatkan badan akan mengam

    bil sikap membungkuk pada saat berjalan.

    Bila radang semangkin meluas dapat menimbulkan rasa mual , bahkan

    muntah , dan nafsu makan akan segera menurun.

    Demam akan segera timbul apabila radang tidak segera mendapat pe-

    ngobatan yang tepat.

    Apabila radang terus berlanjut sehingga penderita akan merasakan nye-

    ri yang semangkin hebat.

    Pada keadaan seperti ini Obat Antibiotik tampaknya tidak berguna lagi

    Yang diperlukan adalah OPERASI ,

    Tentu semua ini akan ditentukan Oleh Dokter Bedah .

    Bila keadaan ini gagal diketahui Oleh Dokter atau si penderita sendiri

    kurang peduli maka keadaan akan semangkin gawat sehingga dapat

    menyebabkan pecahnya Usus Buntu tersebut yang berakibat infeksi

    akan tersebar kedalam rongga perut ,sehingga dapat terjadi infeksi pa

    da lapisan perut atau disebut juga PERITONITIS.

    Pemeriksaan Penunjang :

    Biasanya Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik meliputi pemerik

    saan Panggul , Rektum (dubur) ,pemeriksaan Laboratorium Darah .

    Urin , Rontgen Abdomen (perut) ,USG (bila Perlu) , CT SCAN (bila

    perlu)

    OPERASI :

    1. Dapat Operasi terbuka (perut dibuka)

    2. Dengan alat Laparokopi (Perut hanya disayat kecil pada bawah pusar

    dan sayatan kecil lainnya pada daerah usus buntu)
    Read More....